VASIOTA.COM – Penggunaan kecerdasan buatan (AI) membutuhkan sumber daya yang jauh lebih besar daripada sekadar listrik. Pusat data yang menjalankan layanan AI juga membutuhkan air, terutama untuk mendinginkan server dan mendukung pembangkitan listrik.
International Energy Agency (IEA) memperkirakan konsumsi air data center global mencapai sekitar 560 miliar liter pada 2023. Angka ini diproyeksikan meningkat menjadi sekitar 1,2 triliun liter per tahun pada 2030 dalam skenario dasar IEA.
Angka tersebut mencakup konsumsi air yang berkaitan dengan operasional data center secara keseluruhan, bukan hanya fasilitas yang menjalankan AI. Namun, pertumbuhan komputasi AI menjadi salah satu faktor yang mendorong peningkatan kebutuhan infrastruktur pusat data.
Data Center Berkapasitas 100 MW Butuh Jutaan Liter Air per Hari
Besarnya kebutuhan air terlihat dari perkiraan IEA untuk sebuah data center berskala besar berkapasitas 100 megawatt (MW) di Amerika Serikat. Fasilitas semacam ini diperkirakan mengonsumsi sekitar 2 juta liter air per hari, termasuk penggunaan air tidak langsung.
Lebih dari 60% konsumsi tersebut berkaitan dengan pasokan energi dan pembangkitan listrik. Sementara itu, pendinginan langsung menyumbang sekitar seperempat dari total konsumsi air yang diperkirakan IEA.
Dengan demikian, menghitung kebutuhan air data center hanya berdasarkan sistem pendinginnya akan menghasilkan gambaran yang tidak lengkap. Air juga digunakan dalam proses produksi energi yang menjaga server tetap beroperasi.
Besarnya konsumsi aktual bergantung pada kapasitas komputasi, efisiensi server, sistem pendinginan, sumber listrik, dan kondisi iklim di lokasi fasilitas.
Mengapa AI Membutuhkan Air?
Model AI memproses data menggunakan prosesor dan akselerator komputasi yang menghasilkan panas selama beroperasi. Jika panas tidak dikelola dengan baik, kinerja perangkat dapat menurun dan sistem berisiko mengalami gangguan.
Sejumlah data center menggunakan pendinginan berbasis air untuk memindahkan panas dari perangkat komputasi. Dalam sistem tertentu, sebagian air menguap selama proses pendinginan dan harus diganti dengan pasokan baru.
Namun, tidak semua pusat data menggunakan air dalam jumlah yang sama. Ada fasilitas yang mengandalkan pendinginan udara, sistem sirkulasi cairan tertutup, atau kombinasi beberapa teknologi.
Lokasi juga berpengaruh. Data center di wilayah panas dapat memiliki kebutuhan pendinginan berbeda dari fasilitas di wilayah yang lebih sejuk. Karena itu, konsumsi air tidak bisa ditentukan hanya berdasarkan kapasitas data center.
Berapa Banyak Air untuk Satu Permintaan AI?
Tidak ada satu angka yang berlaku untuk setiap pertanyaan kepada chatbot AI. Konsumsi air dipengaruhi oleh model yang digunakan, panjang jawaban, perangkat keras, efisiensi pusat data, dan metode penghitungan.
Penelitian yang diterbitkan dalam Communications of the ACM pada 2025 oleh Pengfei Li dan rekan-rekannya memperkirakan bahwa pelatihan GPT-3 membutuhkan sekitar 5,4 juta liter air dalam skenario yang mereka kaji. Dari jumlah tersebut, sekitar 700.000 liter merupakan konsumsi air langsung di pusat data.
Penelitian itu juga memperkirakan bahwa penggunaan GPT-3 untuk menghasilkan respons dapat menghabiskan air setara dengan satu botol berukuran 500 mililiter untuk sekitar 10–50 respons dengan panjang menengah, bergantung pada lokasi dan waktu operasional.
Angka tersebut merupakan estimasi berdasarkan asumsi dan kondisi tertentu, bukan patokan untuk semua model AI.
Sementara itu, Google melaporkan pada Agustus 2025 bahwa satu permintaan teks median di aplikasi Gemini menggunakan sekitar 0,26 mililiter air menurut metodologi internal perusahaan. Estimasi ini mencakup kebutuhan pendukung operasional pusat data.
Angka Gemini jauh lebih rendah daripada estimasi dalam penelitian GPT-3. Namun, keduanya tidak bisa dibandingkan secara langsung karena model, karakteristik permintaan, infrastruktur, dan metode pengukurannya berbeda.
Perbedaan tersebut menegaskan bahwa klaim mengenai konsumsi air per pertanyaan AI perlu menyebutkan sumber dan metodologinya. Tanpa informasi itu, satu angka berisiko memberikan gambaran yang menyesatkan.

Konsumsi Air Data Center Diproyeksikan Meningkat
Dalam laporan Energy and AI yang diterbitkan pada April 2025, IEA memperkirakan konsumsi air data center global naik dari sekitar 560 miliar liter per tahun pada 2023 menjadi sekitar 1,2 triliun liter per tahun pada 2030.
Proyeksi itu menunjukkan kebutuhan air tahunan berpotensi meningkat lebih dari dua kali lipat dalam tujuh tahun.
Peningkatan penggunaan AI generatif mendorong kebutuhan akan server dan kapasitas komputasi yang lebih besar. Namun, AI bukan satu-satunya penyebab pertumbuhan konsumsi air data center. Layanan komputasi awan, penyimpanan data, dan berbagai layanan digital lainnya juga membutuhkan infrastruktur yang sama.
Angka proyeksi IEA tersebut karena itu perlu dipahami sebagai estimasi untuk sektor data center secara keseluruhan, bukan perkiraan konsumsi air AI saja.
Dampak Terbesar Bergantung pada Ketersediaan Air
Besarnya konsumsi air tidak otomatis menghasilkan dampak lingkungan yang sama di setiap lokasi. Data center yang menggunakan air di wilayah dengan pasokan melimpah menghadapi kondisi berbeda dari fasilitas yang beroperasi di daerah rawan kekeringan.
Jenis air yang digunakan juga penting. Pemakaian air daur ulang atau air nonpotabel dapat mengurangi tekanan terhadap pasokan air tawar, selama sumber tersebut sesuai dengan kebutuhan operasional fasilitas.
Laporan lingkungan Google mencatat bahwa pusat data yang dimiliki dan dioperasikan perusahaan itu mengonsumsi sekitar 7,787 miliar galon AS air pada 2024, setara dengan sekitar 29,5 miliar liter. Angka ini mencakup operasional pusat data Google secara keseluruhan, bukan hanya layanan AI, serta tidak mencakup pusat data yang dioperasikan pihak ketiga.
Data perusahaan tersebut menunjukkan besarnya kebutuhan air di industri pusat data. Namun, angka konsumsi saja belum cukup untuk menilai dampak lokal. Informasi mengenai lokasi fasilitas, sumber air, dan tingkat tekanan terhadap pasokan air setempat juga diperlukan.
Bagaimana Konsumsi Air AI Bisa Dikurangi?
Ada beberapa langkah yang dapat menekan penggunaan air. Perusahaan dapat meningkatkan efisiensi komputasi, memilih sistem pendinginan yang sesuai dengan iklim setempat, dan menggunakan air daur ulang jika memungkinkan.
Penggunaan listrik juga perlu diperhitungkan. Sebagian konsumsi air data center berasal dari proses pembangkitan energi, sehingga efisiensi listrik dan pilihan sumber energi turut memengaruhi jejak air keseluruhan.
Meski begitu, penghematan listrik tidak selalu menghasilkan penghematan air dalam proporsi yang sama. Hasilnya bergantung pada teknologi pendinginan dan karakteristik sumber energi yang digunakan.
Pada akhirnya, pertumbuhan AI membawa kebutuhan infrastruktur yang tidak bisa dinilai dari konsumsi listrik saja. Air untuk pendinginan dan penyediaan energi juga menjadi bagian penting dari perhitungan dampak lingkungan.
Dengan proyeksi konsumsi air data center global mencapai 1,2 triliun liter per tahun pada 2030, efisiensi penggunaan air perlu menjadi bagian dari perencanaan industri ini. Terlebih di wilayah yang menghadapi keterbatasan pasokan air, pilihan teknologi dan lokasi pembangunan data center dapat menentukan seberapa besar tekanan yang ditimbulkan terhadap sumber daya setempat.

