VASIOTA.COM, Berita AI – Pelajar Indonesia meraih empat medali dalam International Olympiad in Artificial Intelligence (IOAI) 2026 di Astana, Kazakhstan, yang berlangsung pada 2–8 Agustus 2026. Kontingen Indonesia membawa pulang satu medali emas, dua perak, dan satu perunggu dari kompetisi kecerdasan buatan tingkat internasional tersebut.
Medali emas diraih Luvidi Pranawa Alghari dari SMAS Pribadi Beji, Depok, Jawa Barat. Sementara itu, Matthew Hutama Pramana dari SMAS Kolese Loyola Semarang dan Nicholas Ardi Tirta dari SMAS Santa Laurensia Alam Sutera masing-masing memperoleh medali perak. Medali perunggu diraih Avner Maxwell Lim dari BTB School Pluit.
Prestasi Luvidi menjadi salah satu sorotan karena ia sebelumnya juga memperkuat Indonesia pada IOAI 2025 di Beijing, China. Pada debut Indonesia di ajang tersebut, Luvidi meraih medali perak. Tahun ini, perolehan tersebut meningkat menjadi emas.
IOAI merupakan kompetisi internasional yang secara khusus mempertemukan pelajar sekolah menengah untuk menguji kemampuan di bidang kecerdasan buatan. Kompetisinya tidak sekadar menguji kemampuan menggunakan aplikasi AI, tetapi berkaitan dengan pemrograman dan persoalan AI yang membutuhkan kemampuan teknis.
IOAI 2026 menjadi penyelenggaraan ketiga kompetisi tersebut. Materi dan tugas kompetisi tahun ini mencakup persoalan yang dikerjakan dalam rangkaian babak kualifikasi dan kompetisi langsung di Astana. Dokumentasi resmi IOAI menyebut kompetisi 2026 diikuti 462 peserta dari 103 delegasi.
Jumlah tersebut menunjukkan bahwa kompetisi AI untuk pelajar mulai berkembang menjadi ajang internasional dengan cakupan peserta yang semakin luas. Pada IOAI 2025, Indonesia baru pertama kali berpartisipasi dan mengakhiri kompetisi dengan tiga medali perak serta satu perunggu. Indonesia ketika itu berada di peringkat ke-13 dari 61 negara peserta.
Hasil tahun ini memperlihatkan peningkatan capaian Indonesia. Jumlah medali yang diperoleh tetap empat, tetapi komposisinya berubah dengan hadirnya medali emas.
Bagi Indonesia, pencapaian tersebut juga menunjukkan bahwa pembinaan talenta AI tidak hanya berlangsung pada tingkat perguruan tinggi atau industri. Pelajar sekolah menengah sudah mulai mengikuti kompetisi yang secara khusus menguji kemampuan teknis di bidang kecerdasan buatan.
IOAI 2026 sendiri mempertemukan ratusan pelajar dari berbagai negara untuk berkompetisi dalam bidang yang semakin relevan dengan perkembangan teknologi global. Indonesia kini memiliki pengalaman dua edisi dalam ajang tersebut, dengan capaian yang meningkat dari perak dan perunggu pada 2025 menjadi emas, perak, dan perunggu pada 2026.
Prestasi empat pelajar tersebut menjadi catatan baru bagi perkembangan talenta muda Indonesia di bidang AI, sekaligus memperlihatkan bahwa kompetisi kecerdasan buatan internasional mulai menjadi salah satu arena baru bagi pelajar Indonesia untuk menunjukkan kemampuan teknisnya.

