VASIOTA.COM – Amerika Serikat dan China kini menghadapi pesaing baru dalam perlombaan kecerdasan buatan (AI). Uni Eropa menyiapkan dana publik sebesar €10 miliar atau sekitar Rp207,4 triliun untuk mendukung pembangunan hingga tujuh AI Gigafactory di berbagai negara anggota.
Komisi Eropa membuka proses pengadaan untuk fasilitas komputasi AI berskala sangat besar tersebut pada akhir Juli 2026. Jumlahnya meningkat dari rencana awal yang hanya menargetkan lima AI Gigafactory.
Proyek ini menjadi bagian dari strategi Uni Eropa untuk memperbesar kapasitas komputasi di kawasan sekaligus memperkuat posisi Eropa dalam persaingan teknologi AI global.
Uni Eropa Siapkan Rp207,4 Triliun
Dana €10 miliar yang disiapkan Uni Eropa merupakan pendanaan publik untuk mendukung pembangunan AI Gigafactory.
Nilainya setara sekitar Rp207,4 triliun berdasarkan kurs yang digunakan dalam laporan CNBC Indonesia. Namun, angka tersebut bukan keseluruhan nilai investasi proyek.
Komisi Eropa juga menargetkan sedikitnya €20 miliar investasi swasta untuk melengkapi pendanaan publik tersebut. Dengan demikian, apabila seluruh target terealisasi, total pembiayaan yang ditargetkan untuk proyek AI Gigafactory dapat mencapai sekitar €30 miliar.
Artinya, Rp207,4 triliun sebaiknya dipahami sebagai dana publik yang disiapkan Uni Eropa, bukan sebagai total biaya pembangunan seluruh fasilitas.
Bukan Pabrik Pembuat Chip
Istilah AI Gigafactory dapat menimbulkan kesan bahwa Uni Eropa akan membangun pabrik untuk memproduksi chip AI.
Namun, fasilitas yang dimaksud memiliki fungsi berbeda.
AI Gigafactory dirancang sebagai pusat komputasi AI dengan kapasitas sangat besar. Fasilitas ini akan menggabungkan prosesor AI canggih, software, teknologi cloud, konektivitas berkecepatan tinggi, penyimpanan data, dan infrastruktur pusat data.
Komisi Eropa menargetkan setiap gigafactory memiliki lebih dari 100.000 prosesor AI canggih. Infrastruktur tersebut akan digunakan untuk melatih dan mengembangkan model AI generasi berikutnya, termasuk model dengan skala hingga triliunan parameter.
Karena itu, istilah yang lebih tepat untuk memahami AI Gigafactory adalah infrastruktur komputasi AI berskala raksasa, bukan sekadar pabrik dalam pengertian manufaktur.
Jumlahnya Bertambah dari Lima Menjadi Tujuh
Uni Eropa sebelumnya berencana membangun lima AI Gigafactory.
Namun, tingginya minat dari negara-negara anggota membuat Komisi Eropa memperluas rencana tersebut menjadi hingga tujuh fasilitas. Langkah ini menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap kapasitas komputasi AI skala besar semakin meningkat di Eropa.
Fasilitas tersebut nantinya akan melengkapi jaringan AI Factories yang sudah dikembangkan Uni Eropa.
Komisi Eropa sebelumnya telah membangun jaringan AI Factories di berbagai negara untuk memberikan akses terhadap sumber daya komputasi kepada startup, peneliti, industri, akademisi, dan sektor publik.
Gigafactory berada pada tingkat yang jauh lebih besar dan ditujukan untuk kebutuhan komputasi AI generasi berikutnya.
Tender Dibuka hingga November 2026
Proses pengajuan untuk pembangunan AI Gigafactory akan berlangsung hingga 12 November 2026.
Komisi Eropa menargetkan hasil proses seleksi diumumkan pada awal 2027.
Setelah kontrak ditandatangani, fasilitas yang terpilih diharapkan mulai beroperasi dalam waktu sekitar 18 bulan.
Dengan jadwal tersebut, pembangunan AI Gigafactory menjadi proyek jangka menengah yang diharapkan dapat segera menambah kapasitas komputasi AI Eropa.
Nvidia, AMD, dan Qualcomm Siapkan Chip
Besarnya kapasitas komputasi yang ditargetkan membuat pasokan prosesor AI menjadi salah satu komponen penting proyek ini.
Sejumlah perusahaan chip besar juga sudah terlibat dalam rencana tersebut.
Nvidia, AMD, dan Qualcomm telah menandatangani letter of intent untuk menyediakan chip kepada kelompok yang terlibat dalam proyek AI Gigafactory.
Keterlibatan ketiga perusahaan tersebut memberikan gambaran mengenai skala kebutuhan perangkat keras dalam fasilitas yang sedang direncanakan.
Namun, prosesor hanyalah salah satu bagian dari infrastruktur.
AI Gigafactory juga membutuhkan pusat data, sistem pendinginan, jaringan berkecepatan tinggi, penyimpanan, pasokan listrik, serta sistem komputasi berperforma tinggi yang mampu menjalankan ribuan akselerator secara bersamaan.
Eropa Ingin Mengurangi Ketergantungan Teknologi
Di balik pembangunan AI Gigafactory terdapat persoalan yang lebih strategis bagi Uni Eropa.
Pengembangan model AI generasi terbaru membutuhkan kapasitas komputasi yang sangat besar. Jika kapasitas tersebut tidak tersedia di dalam kawasan Eropa, perusahaan dan peneliti akan semakin bergantung pada penyedia infrastruktur dari luar kawasan.
Komisi Eropa menempatkan pembangunan AI Gigafactory sebagai bagian dari upaya memperkuat kedaulatan teknologi Eropa.
Dengan menyediakan kapasitas komputasi di dalam kawasan, Uni Eropa ingin memberikan ruang lebih besar bagi perusahaan, startup, peneliti, dan institusi publik Eropa untuk mengembangkan teknologi AI tanpa sepenuhnya bergantung pada infrastruktur asing.
Bersaing dengan AS dan China
Ambisi tersebut muncul ketika Amerika Serikat dan China terus memperbesar investasi di sektor AI.
Amerika Serikat memiliki perusahaan teknologi dan AI frontier dengan sumber daya komputasi yang sangat besar. Di sisi lain, China terus membangun ekosistem AI domestik sekaligus memperluas infrastruktur komputasinya.
Eropa berusaha mempersempit kesenjangan tersebut melalui pembangunan infrastruktur komputasi dalam skala besar.
Reuters melaporkan proyek AI Gigafactory sebagai bagian dari upaya Uni Eropa mengejar Amerika Serikat dan China dalam perlombaan AI.
Persaingan tersebut kini tidak hanya berlangsung pada level model AI atau aplikasi.
Kapasitas komputasi menjadi salah satu medan persaingan utama.
Pihak yang memiliki akses terhadap chip, pusat data, listrik, jaringan, dan komputasi dalam jumlah besar akan memiliki posisi lebih kuat untuk melatih model AI dengan kemampuan yang semakin kompleks.
BACA JUGA: Startup AI Runlayer Gugat Rippling Atas Tuduhan Pencurian IP
Tantangan Terbesarnya Bukan Sekadar Chip
Membangun tujuh AI Gigafactory dengan puluhan ribu hingga lebih dari 100.000 prosesor AI per fasilitas membawa tantangan besar.
Salah satunya adalah kebutuhan energi.
Pusat data AI berskala besar membutuhkan pasokan listrik yang stabil sekaligus sistem pendinginan yang mampu menjaga perangkat tetap beroperasi pada kondisi optimal.
Selain energi, Uni Eropa juga perlu memastikan ketersediaan lahan, konektivitas, jaringan listrik, rantai pasokan perangkat keras, serta infrastruktur data center.
Karena itu, proyek AI Gigafactory pada dasarnya bukan hanya proyek teknologi.
Ini merupakan proyek yang melibatkan AI, semikonduktor, data center, cloud computing, jaringan, energi, dan infrastruktur digital dalam satu ekosistem.
Bukan Sekadar Mengejar Model AI
Uni Eropa kini berusaha membangun fondasi yang diperlukan untuk menjadi salah satu kekuatan AI dunia.
Jika seluruh rencana terealisasi, tujuh AI Gigafactory akan menambah kapasitas komputasi secara signifikan di kawasan tersebut dan melengkapi jaringan AI Factories yang sudah ada.
Namun, proyek ini masih berada pada tahap pengadaan. Tujuh lokasi dan konsorsium final belum ditetapkan hingga proses seleksi selesai.
Yang sudah jelas adalah besarnya taruhan Uni Eropa.
Brussels menyiapkan €10 miliar atau sekitar Rp207,4 triliun dana publik, sambil berupaya menarik €20 miliar investasi swasta untuk membangun infrastruktur komputasi AI generasi berikutnya.
Jika berhasil, proyek tersebut dapat mengubah posisi Eropa dalam peta persaingan AI global.
Sebab dalam perlombaan AI berikutnya, pertanyaannya bukan hanya siapa yang memiliki model paling pintar.
Pertanyaannya juga adalah siapa yang memiliki cukup chip, listrik, data center, dan kapasitas komputasi untuk melatih model tersebut.

