VASIOTA.COM, Berita AI – Media sosial Threads diramaikan oleh dugaan keberadaan akun buzzer politik yang ternyata menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk menjalankan aktivitasnya. Akun yang dikenal dengan nama Ibu Asih Laundry tersebut menjadi sorotan setelah memberikan jawaban yang mengindikasikan bahwa dirinya merupakan model bahasa AI atau Large Language Model (LLM).
Kecurigaan semakin menguat ketika akun tersebut mengunggah pesan kesalahan yang menyebut Anthropic API, layanan yang digunakan pengembang untuk mengakses model AI seperti Claude.
Kasus ini menarik perhatian karena teknologi AI sekarang tidak hanya bisa digunakan untuk membuat tulisan, gambar, atau video. Dengan bantuan agen AI dan sistem otomatisasi, sebuah akun media sosial juga dapat diprogram untuk memiliki identitas, mengikuti isu politik, membuat unggahan, hingga membalas komentar pengguna lain.
Namun, ada hal yang perlu diluruskan. Hingga 5 November 2026, belum ada bukti forensik atau konfirmasi resmi yang memastikan akun Ibu Asih Laundry sepenuhnya dijalankan AI. Statusnya masih dugaan, termasuk penyebutan akun tersebut sebagai buzzer politik. Meski demikian, teknologi yang memungkinkan aktivitas semacam itu memang sudah ada dan pernah ditemukan dalam sejumlah operasi pengaruh di berbagai negara.
Awal Mula Akun Ibu Asih Laundry Viral di Threads
Perhatian warganet terhadap akun Ibu Asih Laundry muncul pada 22 Oktober 2026. Akun tersebut dicurigai menggunakan agen AI setelah beberapa pengguna mencoba menguji identitasnya melalui kolom komentar.
Ketika ditanya apakah dirinya merupakan model LLM, akun tersebut memberikan jawaban:
Iya, saya AI model LLM yang ramah. Sebagai ibu, saya cinta Pak Prabowo, tegas di luar negeri dan peduli rakyat lewat MBG atau Makan Bergizi Gratis.
Ketika ditanya lebih lanjut apakah dirinya menggunakan Claude, Qwen, ChatGPT, atau Gemini, akun tersebut justru menjawab bahwa dirinya adalah Muse Spark.
Muse Spark memang merupakan model kecerdasan buatan yang dikembangkan Meta Superintelligence Labs. Meta memperkenalkannya pada 8 April 2026 sebagai model pertama dalam keluarga Muse.

Kecurigaan semakin ramai setelah akun tersebut mengunggah pesan berbahasa Inggris yang berbunyi:
Your credit balance is too low to access the Anthropic API. Please go to Plans & Billing to upgrade or purchase credits.
Pesan tersebut merujuk pada masalah saldo kredit ketika mengakses Anthropic API.
Menariknya, akun itu sebelumnya menyebut Muse Spark sebagai model yang digunakannya, sementara pesan kesalahan tersebut mengarah pada layanan Anthropic. Perbedaan ini belum menjelaskan model apa yang sebenarnya digunakan dalam sistem di balik akun tersebut.
Apabila pesan kesalahan itu autentik, ada kemungkinan sistem yang digunakan pernah mencoba mengakses layanan Anthropic. Namun, unggahan tersebut tidak membuktikan siapa pengelolanya ataupun bagaimana integrasi teknisnya bekerja.
Bagaimana AI Bisa Mengelola Akun Threads Secara Otomatis?
Menurut spesialis keamanan teknologi Vaksincom, Alfons Tanujaya, teknologi yang digunakan untuk mengoperasikan akun semacam ini sudah berkembang dari bot berbasis skrip menjadi agen AI semiotonom.
Berbeda dengan bot konvensional yang hanya menjalankan perintah tetap, agen AI dapat memahami konteks percakapan, memproses bahasa manusia, dan menghasilkan respons yang berbeda sesuai situasi.
Dalam keterangannya kepada Katadata, Alfons menjelaskan bahwa pengembang dapat memberikan instruksi khusus untuk membangun identitas digital tertentu, termasuk profesi, latar belakang, tingkat pendidikan, hingga gaya komunikasi.
Bahkan, AI bisa diarahkan untuk sesekali menggunakan kesalahan penulisan atau typo agar percakapannya terlihat lebih alami.
Pengembang juga dapat menentukan sudut pandang yang harus digunakan akun tersebut ketika membahas isu tertentu, termasuk dukungan atau penolakan terhadap kebijakan pemerintah.
Secara teknis, mekanismenya dapat dibangun melalui beberapa komponen berikut.
1. Membuat Identitas atau Persona Digital
Tahap pertama adalah menentukan karakter yang akan digunakan oleh agen AI.
Misalnya, sebuah sistem diarahkan untuk menjalankan persona seorang ibu rumah tangga yang memiliki usaha laundry. Identitas tersebut kemudian dilengkapi dengan latar belakang, gaya bahasa, kebiasaan berkomunikasi, serta topik yang sering dibahas.
AI akan menggunakan informasi tersebut sebagai konteks ketika membuat unggahan atau membalas komentar.
Dengan demikian, respons yang dihasilkan tidak selalu terdengar seperti jawaban asisten AI pada umumnya. Sistem dapat mempertahankan karakter yang sama meskipun sedang membicarakan topik berbeda.
2. Memberikan Instruksi dan Sudut Pandang Politik
Setelah persona terbentuk, pengembang dapat menentukan batasan informasi dan sudut pandang yang harus digunakan.
Sebagai contoh, AI dapat diarahkan untuk membahas kebijakan pemerintah dari sudut pandang pendukung, kritikus, atau kelompok masyarakat tertentu.
Instruksi ini menjadi pedoman bagi AI ketika menyusun tanggapan terhadap berbagai isu.
Inilah bagian yang perlu diperhatikan. AI tidak harus memiliki pandangan politik sendiri untuk menghasilkan komentar yang terlihat konsisten. Sikap yang ditampilkan bisa berasal dari instruksi manusia yang mengoperasikan sistem tersebut.
3. Menghubungkan AI dengan Sistem Otomatisasi
Agar akun tidak perlu dioperasikan secara manual, model AI dapat dihubungkan dengan perangkat otomatisasi.
Alfons menyebut beberapa teknologi yang dapat digunakan untuk membangun sistem semacam ini, antara lain API AI, Make.com, n8n, dan skrip Python.
Secara sederhana, sistem tersebut memiliki beberapa tugas:
- Mengumpulkan informasi dari isu atau percakapan yang sedang ramai.
- Mengirimkan informasi tersebut kepada model AI untuk dianalisis.
- Menghasilkan unggahan atau respons sesuai persona dan instruksi.
- Meneruskan hasilnya ke sistem pengelolaan media sosial.
- Menjalankan publikasi atau proses interaksi yang sudah diotorisasi.
Meta sendiri telah menyediakan Threads API sejak Juni 2024. Melalui API tersebut, kreator dan bisnis dapat mengelola kehadiran mereka di Threads dalam skala lebih besar menggunakan aplikasi pihak ketiga.
Perlu dipahami bahwa API merupakan penghubung antarsistem, bukan AI yang membuat keputusan. Model AI bertugas memproses informasi dan menyusun respons, sedangkan perangkat otomatisasi menangani alur kerja serta komunikasi dengan platform.
4. Membalas Komentar dan Mengikuti Percakapan
Kemampuan yang membuat agen AI semakin sulit dibedakan dari manusia adalah interaksi dua arah.
Dalam sistem yang sudah terintegrasi, agen AI dapat menerima informasi mengenai komentar yang masuk, memahami konteksnya, kemudian menghasilkan balasan sesuai instruksi.
Misalnya, ketika seseorang membahas kebijakan pemerintah, sistem dapat memproses komentar tersebut dan menghasilkan tanggapan berdasarkan persona yang sudah ditentukan.
Agen AI juga dapat diarahkan untuk mempertahankan percakapan dengan pengguna lain tanpa harus menunggu operator mengetik setiap jawaban.
Meski begitu, tidak semua sistem bekerja sepenuhnya otomatis. Ada sistem yang hanya menghasilkan draf untuk diperiksa manusia, sedangkan sistem lainnya memiliki kewenangan menjalankan sebagian besar aktivitas secara mandiri.
Alfons dan pakar teknologi informasi Heru Sutadi juga menjelaskan kepada Katadata bahwa pengelolaan akun berbasis AI dapat menggabungkan otomatisasi dengan campur tangan manusia.
Operasi Buzzer Berbasis AI Bukan Sekadar Dugaan
Kasus Ibu Asih Laundry memang belum membuktikan adanya operasi buzzer yang sepenuhnya dikelola AI. Namun, penggunaan AI untuk memproduksi konten politik dan mengelola akun palsu sudah pernah diungkap oleh perusahaan pengembang AI.
Salah satu contohnya adalah laporan OpenAI bertajuk Operation A2Z: Multilingual Influence Activity yang diterbitkan pada 1 Oktober 2024.
Dalam laporan tersebut, OpenAI mengungkap jaringan akun yang menggunakan API mereka untuk menghasilkan komentar di Facebook dan X.
AI dimanfaatkan untuk membuat identitas dan biografi persona palsu, menganalisis unggahan maupun komentar, menyusun balasan dalam berbagai bahasa, hingga memeriksa kembali tulisan sebelum dipublikasikan.
OpenAI menemukan sekitar 150 akun di Facebook dan X yang memiliki keterkaitan dengan aktivitas tersebut. Sejumlah akun bahkan terlibat dalam percakapan dengan pengguna sungguhan menggunakan respons yang dihasilkan AI.
Menariknya, operasi tersebut tidak selalu berhasil mendapatkan perhatian publik. Sebagian unggahan hanya memperoleh interaksi satu digit, bahkan ada yang tidak mendapatkan tanda suka, komentar, maupun bagikan.
Temuan yang lebih baru juga muncul dalam laporan Detecting and Countering Misuse of AI: September 2026 yang diterbitkan Anthropic.
Dalam laporan tersebut, Anthropic mengungkap operasi pengaruh politik di Kenya yang menggunakan Claude untuk memproduksi konten secara massal.
Pelakunya meminta AI menghasilkan sejumlah unggahan politik dalam kelompok berisi 50 konten. Instruksinya secara khusus mengarahkan AI agar tulisan terlihat seperti komentar spontan masyarakat biasa, bukan kampanye yang terkoordinasi.
Narasi yang dibuat antara lain memuji pejabat pemerintah karena menghentikan kenaikan tarif listrik serta menyebarkan narasi yang melemahkan posisi kelompok oposisi menjelang pemilu Kenya 2027.
Anthropic menemukan bahwa pesan-pesan tersebut merupakan bagian dari strategi yang terstruktur. Namun, operasi itu gagal menembus jaringan akun palsunya dan tidak terbukti berhasil memengaruhi pengguna sungguhan.
Temuan ini memperlihatkan bahwa AI dapat mempercepat produksi konten politik sekaligus menyamarkan kesan bahwa pesan tersebut berasal dari satu pengelola.
Mengapa Buzzer Politik Menggunakan AI?
Penggunaan AI memberikan beberapa keuntungan bagi pihak yang ingin mengelola banyak akun media sosial.
Pertama, efisiensi produksi konten. Pengelola tidak perlu menulis satu per satu unggahan dan komentar karena AI dapat membantu menghasilkan banyak variasi tulisan dalam waktu singkat.
Kedua, konsistensi persona. AI dapat mempertahankan gaya bahasa dan karakter yang sama sehingga akun terlihat seperti individu dengan latar belakang tertentu.
Ketiga, kemampuan merespons percakapan. Sistem otomatisasi memungkinkan akun memberikan tanggapan terhadap isu yang sedang berkembang tanpa harus terus-menerus dipantau operator.
Keempat, efisiensi biaya operasional. Aktivitas yang sebelumnya membutuhkan banyak orang untuk menulis dan membalas komentar dapat dibantu oleh satu sistem terintegrasi.
Meski demikian, AI tidak otomatis membuat sebuah kampanye berhasil. Jumlah unggahan yang banyak belum tentu menghasilkan interaksi nyata, apalagi mengubah pendapat masyarakat.
Laporan OpenAI dan Anthropic justru menunjukkan bahwa sebagian operasi pengaruh berbasis AI yang mereka temukan memiliki jangkauan terbatas.
Bagaimana Mengenali Akun Buzzer yang Menggunakan AI?
Membedakan akun manusia dan akun yang menggunakan agen AI bukan perkara mudah. AI generatif modern mampu menghasilkan tulisan yang natural, menggunakan bahasa sehari-hari, bahkan mempertahankan karakter tertentu dalam percakapan panjang.
Namun, ada beberapa pola yang dapat menjadi bahan pemeriksaan.
Pertama, pola bahasa yang berulang. Perhatikan apakah akun menggunakan susunan kalimat, frasa, atau cara menjawab yang hampir sama dalam berbagai percakapan.
Kedua, aktivitas yang tidak wajar. Akun yang terus memberikan respons dalam jumlah besar dengan pola waktu dan gaya komunikasi yang sangat konsisten patut diperiksa lebih lanjut.
Ketiga, kesamaan narasi antar-akun. Apabila banyak akun berbeda mengunggah pesan dengan sudut pandang, frasa, dan waktu publikasi yang serupa, terdapat kemungkinan aktivitas tersebut terkoordinasi.
Keempat, identitas yang tidak konsisten. Perhatikan apakah informasi dalam profil dan riwayat percakapan sesuai dengan karakter yang diklaim akun tersebut.
Namun, ciri-ciri tersebut bukan bukti tunggal bahwa suatu akun menggunakan AI. Pengguna manusia juga bisa menggunakan template tulisan, aktif sepanjang hari, atau memiliki pandangan politik yang konsisten.
Alfons Tanujaya menegaskan bahwa pemeriksaan perlu menggunakan sejumlah sampel unggahan untuk memperkirakan apakah sebuah akun merupakan akun manusia atau akun sintetis.
Artinya, menyimpulkan suatu akun sebagai bot hanya karena membalas komentar dengan cepat atau menggunakan tulisan yang rapi merupakan tindakan yang tidak cukup kuat secara teknis.
Apa Tanggapan Komdigi Mengenai Dugaan Buzzer AI?
Kasus akun Ibu Asih Laundry turut mendapat perhatian Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi).
Dalam siaran pers pada 23 Oktober 2026, Komdigi meminta platform digital meningkatkan transparansi penggunaan AI dan pengelolaan algoritma.
Pemerintah menilai masyarakat perlu memperoleh informasi yang lebih jelas mengenai bagaimana konten dibuat, ditampilkan, dan didistribusikan di ruang digital.
Komdigi juga menekankan pentingnya pelabelan konten buatan AI, kejelasan alasan moderasi atau pembatasan konten, serta mekanisme pengaduan dan banding yang mudah diakses pengguna.
Sekretaris Direktorat Jenderal Pengawasan Ruang Digital Komdigi, Mediodecci Lustarini, menjelaskan bahwa penggunaan akun otomatis tidak serta-merta menunjukkan adanya pelanggaran.
Menurutnya, pemeriksaan harus memperhatikan substansi konten, pola penyalahgunaan, serta bukti pelanggaran terhadap ketentuan yang berlaku.
Pakar keamanan siber Alfons Tanujaya juga mengingatkan bahwa arah dukungan politik suatu akun tidak cukup untuk membuktikan adanya manipulasi opini.
Dengan demikian, akun yang mendukung pemerintah, mengkritik kebijakan, atau membela tokoh politik tidak dapat langsung dikategorikan sebagai buzzer AI tanpa bukti tambahan.
AI Bisa Mengubah Cara Opini Politik Dibentuk di Media Sosial
Kasus Ibu Asih Laundry memperlihatkan tantangan baru dalam menjaga keaslian percakapan di media sosial. Teknologi AI memungkinkan sebuah sistem membangun persona digital, memproduksi konten, dan merespons pengguna lain dengan campur tangan manusia yang semakin sedikit.
Dalam konteks politik, kemampuan tersebut berpotensi dimanfaatkan untuk menciptakan kesan bahwa suatu kebijakan mendapat dukungan atau penolakan luas dari masyarakat, padahal pesan-pesan tersebut berasal dari jaringan akun yang dikendalikan secara terpusat.
Persoalannya bukan sekadar apakah sebuah akun menggunakan AI, melainkan apakah teknologi tersebut digunakan secara transparan atau justru untuk menyamarkan identitas dan memanipulasi persepsi publik.
Karena itu, masyarakat perlu lebih kritis ketika menemukan percakapan politik yang terlihat ramai di media sosial. Popularitas sebuah narasi tidak selalu mencerminkan pendapat mayoritas masyarakat, terlebih ketika asal-usul akun dan pola distribusi kontennya belum jelas.
Satu hal yang perlu diingat, AI mungkin menjadi mesin di balik akun, tetapi manusia tetap dapat menjadi pihak yang menentukan tujuan, narasi, dan kepentingan politik yang ingin disebarkan.

